MAKALAH PERKEMBANGAN PERADABAN MANUSIA DARI MASA KE MASA

PERKEMBANGAN PERADABAN MANUSIA

DARI MASA KE MASA

 

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH:

 

NAMA            :  SURYANI KATMAS

KELAS          :  1 B

SEMESTER  :  I

 

YAYASAN PENDIDIKAN ALI-ILHAM

AKADEMIK KEBIDANAN BUTON RAYA

TAHUN

2014


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “Perkembangan Peradaban Manusia dari Masa ke Masa”.

Kami menyadari makalah ini tidak luput dari segala. Harapan kami, semoga bisa menjadi koreksi di masa mendatang agar lebih baik lagi dari sebelumnya.

Kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing atas bimbingan, dorongan dan ilmu yang telah diberikan kepada kami. Sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya dan insya Allah sesuai yang kami harapkan. Dan tidak lupa kami ucapkan terimakasih pula kepada rekan-rekan dan semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan makalah ini.

Baubau,   Desember 2014

Penulis

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………..     i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………     ii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………     1

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………….     1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………..     2

1.3 Tujuan…………………………………………………………………………………     2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Peradaban………………………………………………………..     3

a). Wujud dan Perkembangan Peradaban………………………..     6

b). Evolusi Budaya dan Tahapan Peradaban……………………     7

2.2 Peradaban Klasik Kuno………………………………………………………     7

2.3 Gugus Peradaban Dunia……………………………………………………     8

2.4 Peradaban dan Identitas Budaya………………………………………..    13

2.5 Peradaban dan Teori Sistem……………………………………………….    14

2.6 Masa Depan Peradaban……………………………………………………..    16

2.7 Runtuhnya Peradaban……………………………………………………….    18

2.8 Modernisasi…………………………………………………………………………    21

2.9 Globalisasi…………………………………………………………………………..    24

2.10 Komunikasi Antar Budaya………………………………………………..    28

2.11 Mengendalikan Globalisasi………………………………………………    28

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………    32

3.2 SARAN………………………………………………………………………………..    33

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………    34


BAB I

PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang mempunyai akal, jasmani dan rohani. Melalui akalnya manusia dituntut untuk berfikir menggunakan akalnya untuk menciptakan sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Melalui jasmaninya manusia dituntut untuk menggunakan fisik / jasmaninya melakukan sesuatu yang sesuai dengan fungsinya dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Dan melalui rohaninya manusia dituntut untuk senantiasa dapat mengolah rohaninya yaitu dengan cara beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianutnya.

Antara manusia dan peradaban mempunyai hubungan yang sangat erat karena diantara keduanya saling mendukung untuk menciptakan suatu kehidupan yang sesuai kodratnya. Suatu peradaban timbul karena ada yang menciptakannya yaitu diantaranya factor manusianya yang melaksanakan peradaban tersebut.

Suatu peradaban mempunyai wujud, tahapan dan dapat berevolusi / berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Dari peradaban pula dapat mengakibatkan suatu perubahan pada kehidupan social. Perubahan ini dapat diakibatkan karena pengaruh modernisasi yang terjadi di masyarakat.

Perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bias digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Demikian juga ditemukannya formulasi – formulasi baru kapasitas computer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai ilmu dan aktifitas manusia.

1.2      Rumusan Masalah

Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah :

  1. Bagaimana Hakekat Manusia dan Peradaban?
  2. Bagaimana Wujud dan Perkembangan Peradaban?
  3. Apa perbedaan antara kebudayaan dan peradaban?

1.3       Tujuan

Dalam penyusunan makalah ini, tujuan yang hendak dicapai adalah:

  1. Mengetahui Hakekat Manusia dan Peradaban.
  2. Mengetahui Wujud dan Perkembangan Peradaban.
  3. Mengetahui perbedaan antara kebudayaan dan peradaban.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Peradaban

Peradaban adalah suatu bentuk masyarakat atau kelompok budaya yang kompleks, dicirikan oleh ketergantungannya pada pertanian,perdagangan jarak jauh, pemerintahan berbentuk negara, adanya spesialisasi pekerjaan, kependudukan, dan stratifikasi kelas.

“Peradaban” sering disama artikan dengan “budaya”, tetapi dalam definisi yang lebih banyak digunakan, istilah “peradaban” adalah sebuah istilah deskriptif untuk pertanian dan budaya perkotaan yang kompleks.

Pengertian “peradaban” diartikan juga sebagai prilaku normatif dalam konteks masyarakat di mana cara hidup di perkotaan dianggap lebih unggul dari cara hidup “liar” atau “barbar”. Konsep “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk superioritas kelompok “budaya” (dan sering etis) tertentu.

Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan. Definisi peradaban menurut Koentjaraningrat menyatakan bahwa peradaban merupakan bagian dan unsur kebudayaan yang halus, maju, dan indah seperti misalnya kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun pergaulan, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, kebudayaan yang mempunyai sistem teknologi dan masyarakat kota yang maju dan kompleks.

Dalam bahasa Inggris, istilah “peradaban” disebut civilization yang berarti penyempurnaan pemikiran,tata krama, atau rasa”, (refinement of thought, manners, or taste”). Kata ini mulai dikenal sejak kaisar Romawi, Justinian, pada abad ke-6, memimpin konsolidasi hukum sipil Romawi dan menghasilkan kumpulan tulisan yang disebut Corpus Juris Civilis. Istilah ini dimunculkan kembali pada abad ke-11 di Eropa Barat,dan sejak itu pengaruhnya mulai terasa di Eropa.

Albert Schweitzer, dalam The Philosophy of Civilization, menemukan dua jenis pemikiran tentang peradaban dalam masyarakat. Pertama menyangkut peradaban yang murni materi dan kedua menyangkut etika dan material. Ia memahami “peradaban” sebagai totalitas dari semua kemajuan yang dibuat oleh manusia di setiap wilayah tindakan dan dari setiap sudut pandang sejauh kemajuan tersebut mendukung penyempurnaan spritual individu sebagai kemajuan dari semua kemajuan.

Dalam bahasa Indonesia, kata “peradaban” berasal dari kata “adab” yang berati akhlak atau kesopanan,dan kehalusan budi pekerti. Seseorang dikatakan beradab adalah apabila dia dapat menunjukkan perilaku sopan dan mematuhi norma-norma yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari sisi pandang ilmu sosial, V.Gordon Childe,1942, peradaban dibedakan atas sarana subsistensi mereka, jenis mata pencaharian, pola pemukiman, bentuk pemerintahan, stratifikasi sosial, sistem ekonomi, literasi, dan ciri-ciri budaya lainnya. Untuk subsistensinya, semua peradaban manusia bergantung pada pertanian. Pertumbuhan makanan pada hasil pertanian menghasilkan surplus pangan, terutama setelah menggunakan teknik pertanian intensif seperti irigasi dan pergiliran tanaman. Surplus pangan juga membuat pembagian kerja dan aktivitas manusia semakin beragam dan kemudian menentukan sifat peradaban. Peradaban jelas berbeda dari pola hidup masyarakat lain.

Dibandingkan dengan pola hidup masyarakat lain, “peradaban” mempunyai struktur politik yang lebih kompleks, yaitu negara. Masyarakat negara lebih berlapis dari masyarakat lain; ada perbedaan besar antara kelas – kelas sosial.

Morton Fried, seorang ahli teori konflik, dan Elman Service, seorang teoritisi integrasi, telah mengklasifikasikan kebudayayan manusia dengan basis sistem politik dan kesenjangan sosial dalam empat kategori : Pertama, kelompok (band) pemburu-pengumpul yang biasanya egaliter, kedua kategori masyarakat hortikultural/pastoral, ketiga masyarakat dengan beberapa struktur bertingkat dengan mewarisi kelas sosial : raja, bangsawan, merdeka, dan budak, dan kategori keempat dengan hierarki sosial yang kompleks dan terorganisir berupa kelembagaan pemerintah.

Ditinjau dari sisi ekonomi, peradaban menampilkan pola kepemilikan dan pertukaran yang lebih kompleks daripada masyarakat yang kurang terorganisir. Pada peradaban awal diciptakan uang sebagai alat tukar untuk transaksi yang semakin kompleks ini.

Peradaban tulis menulis dikembangkan pertama kali oleh orang-orang di Sumeria. Hal ini dianggap sebagai salah satu ciri peradaban yang mengiringi munculnya kompleks birokrasi atau administrasi negara penaklukan.

  1. a) Wujud dan Perkembangan Peradaban
  2. Wujud Peradaban

Pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya, maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.

Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh faktor:

  1. Pendidikan,
  2. Kemajuan teknologi dan
  3. Ilmu pengetahuan.

Wujud dari peradaban dapat berupa :

  1. Moral : nilai-nilai dalam masyarakat dalam hubungannya dengan kesusilaan.
  2. Norma : aturan, ukuran, atau pedoman yang dipergunakan dalam menentukan sesuatu benar atau salah, baik atau buruk.
  3. Etika : nilai-nilai dan norma moral tentang apa yang baik dan buruk yang menjadi pegangan dalam megatur tingkah laku manusia. Bisa juga diartikan sebagai etiket, sopan santun.
  4. Estetika : berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam keindahan, mencakup kesatuan (unity), keselarasan (balance), dan kebalikan (contrast).

b).   Evolusi Budaya dan Tahapan Peradaban

  1. Gelombang pertama sebagai tahap peradaban pertanian, dimana dimulai kehidupan baru dari budaya meramu ke bercocok tanam. (revolusi agraris)
  2. Gelombang kedua sebagai tahap peradaban industri penemuan mesin uap, energi listrik, mesin untuk mobil dan pesawat terbang. (revolusi industri)
  3. Gelombang ketiga sebagai tahap peradaban informasi. Penemuan TI dan komunikasi dengan computer atau alat komunikasi digital.

2.2      Peradaban Klasik Kuno

Peradaban kuno sangat dipengaruhi oleh zaman pada periode anatara 600 SM – 400 SM di mana serangkaian orang bijak, nabi, agama dan filsuf reformis, dari Cina, India, Iran, Israel dan Yunani, mengubah arah peradaban selamanya. Julian Jaynes menghubungkannya dengan “runtuhnya pikiran bikameral”, di mana ide-ide bawah sadar hanya diakui sebagai subjektif, bukannya sebagai suara dari roh-roh. William H. McNeill mengkajinya dari periode sejarah sebagai salah satu budaya di mana kontak anatara peradaban sebelumnya terpisah dengan melihat “penutupan oecumene”, dan menyebabkan perubahan sosial dipercepat dari Cina ke Mediterania, berhubungan dengan penyebaran mata uang,kerajaan yang lebih besar dan agama-agama baru. Pandangan ini baru-baru ini telah diperjuangkan oleh Christopher Chase-Dunn dan ahli teori sistem dunia lainnya.

2.3     Gugus Peradaban Dunia

Untuk mengenali gugus peradaban dunia lebih spesifik, peradaban dunia sepanjang masa dikelompokkan dalam beberapa gugus, yaitu :

  1. Peradaban Mediterania, meliputi : peradaban Yunani Kuno dan Hellenic, Phoenicia, kekaisaran Romawi, Illyria, serta peradaban La Tene Celtic.
  2. Peradaban Timur Tengah, meliputi : peradaban Persia, Phoenix, dan Islam.
  3. Peradaban India, Hindu dan Buddha , meliputi : peradaban Post – Maurya India, Kemaharajaan Gupta di India Utara, Kerajaan Chola di India Selatan, dan peradaban Ceylon kuno.
  4. Peradaban Asia Timur, meliputi : peradaban Cina, Korea, Vietnam, dan peradaban Jepang.
  5. Peradaban Asia Tenggara, meliputi : peradaban Funan dan Chen-la, Angkor Kamboja, Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit serta peradaban Burma, Thai dan Laos.
  6. Peradaban Asia Tengah, meliputi : peradaban Tibet, Turki, dan Mongol.
  7. Peradaban Eropa, meliputi : peradaban Georgia dan Armenia, peradaban Kristen Barat, Byzantium, Kristen Ortodoks Timur dan peradaban Russian; dan
  8. Peradaban Meso-Amerika, meliputi: peradaban Aztec dan peradaban Maya. (Wikipedia free encyclopedia, 27 September 2009).

Berikut akan dijelaskan salah satu contoh peradaban, yakni :

Peradaban Maya

Suku Maya mendiami daerah Meksiko Selatan dan bagian-bagian Amerika Tengah lainnya. Pusat kebudayaannya terdapat di Semenanjung Yukatan. Kota paling awal berdirinya diperkirakan pada abad ke-3 di hutan Guatemala yang lebat dan yang terakhir diperkirakan dibangun pada abad ke-10 dan abad ke-11 pada sebuah dataran di Yukatan bagian Utara. Kota-kota ini merupakan peninggalan orang-orang Maya yang memiliki tingkat kebudayaan yang tinggi dengan catatan arsitektur paling beraneka ragam dan paling maju. Kebudayaan suku Maya ini berkembang dari abad ke-1 S M sampai mulainya penggalan Masehi.

Kebudayaan Maya berpusat pada kehidupan agraris. Mereka menanam jagung, merica dan buah-buahan. Mereka memelihara kalkun dan anjing serta menangkap ikan di sepanjang pantai. Mereka juga memintal kapas dan menjualnya ke tempat lain. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orang-orang Maya melakukan kegiatan perdagangan selain bertani. Mereka membawa barang dagangannya langsung pada pembeli yang jaraknya sangat jauh di Amerika Tengah.

Organisasi sosial yang dimiliki oleh suku bangsa Maya ini ditandai dengan berkuasanya golongan elit yang kaya, yang juga melakukan perdagangan, golongan elit juga berfungsi sebagai pemimpin upacara ritual dalam kepercayaan mereka. Mereka juga termasuk golongan terdidik yang mempunyai hak istimewa untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Di luar golongan itu, ada para petani dan budak yang memiliki oleh golongan lain. Bangsa Maya telah memiliki sistem tulisan yang mirip dengan Hierogliyph. Tulisan ini digunakan untuk mencatat peristiwa penting. Tulisan yang mereka kembangkan berfungsi pula sebagai sejarah pencatat kelahiran, perkawinan, dan kematian raja-raja Maya.

Dengan berkembangnya tulisan, ilmu pengetahuan pun berkembang, bangsa ini telah mengenal kalender dengan tahunnya berjumlah 18 bulan yang tiap bulannya berjumlah 20 hari, dan ada yang satu bulan berjumlah 5 hari. Sehingga pertahun ada 365 hari. Mereka juga telah mengembangkan matematika. Selain itu, astronomi ialah salah satu ilmu yang mereka kembangkan.

Bangsa Maya kuno membangun sebuah monumen dan mendirikan kota batu megah untuk para dewa. Sedikitnya ada 80 situs penting peninggalan orang-orang Maya bertebaran di Amerika Tengah. Beberapa situs kuil bertinggi lebih dari 60 meter.

Kebudayaan Maya berkembang dengan subur terutama di Guatemala dan Yukatan. Walau demikian, kebudayaan itu dipengaruhi kuatnya kebudayaan Teotihuakan dari Meksiko bagian tengah. Sebagai salah satu kota terbesar di dunia, kota Teotihuakan pada masa puncaknya dihuni oleh sekitar 100.000 penduduk yang tinggal di dalam Adobe atau rumah-rumah dari bata mentah dan memuja dewa di piramid besar dari batu yang sampai kini masih banyak ditemukan di dekat kota Meksiko. Dari abad ke-4 sampai abad ke-8 pengaruhnya menyebar di Amerika Tengah. Para arsitek serta tukang mencontoh pola bangunan dan pola hiasannya. Bahkan setelah Toetihuakan jatuh ke tangan orang-orang yang belum beradab pada tahun 700, wibawanya masih tetap hidup.

Sebagian besar bangunan yang berjumlah lebih dari 200 di Kaminaluyu sebagai tempat peninggalan purbakala suku bangsa Maya di pinggir batar daya kota Guatemala yang dibangun pada masa itu. Yang terbesar di antaranya adalah batu berbentuk piramid yang tingginya lebih dari 26 meter dengan dua ruang makam di dalamnya. Tubuh raja diletakkan di atas panggung kayu di pusat salah satu ruang makam. Mayat ini dikitari tubuh-tubuh lain yang diduga jenazah orang-orang yang dikurbankan untuk mengawal rajanya menempuh perjalanan ke dunia lain. Di dalam ruangan ini juga ditemukan hiasan dari batu-batu berharga, tulang dan kulit kerang, serta berang pecah belah yang menunjukan kekayaan kebudayaan tersebut.

Reruntuhan Uaxactun adalah peninggalan di daerah Maya bagian tengah yang umurnya lebih muda. Salah satu bangunan yang berupa pelataran bekas kaki kuil berbentuk piramid bertangga terpancang dengan tampak muka berhias. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 250 Masehi. Peninggalan semacam ini ditemukan ini juga di daerah Maya bagian utara.

Pada jaman Klasik, tahun 300-500, kebudayaan suku bangsa Maya di daerah tengah mengalami puncak kejayaan. Arsitekturnya berkembang dengan adanya peningkatan mutu bangunan. Salah satu cirinya adalah dikembangkannya bangunan batu yang sebagian besar merupakan bangunan suci seperti kuil atau biara. Kuil di Tikal yang tingginya mencapai sekitar 888 meter adalah kuil tertinggi. Biara dalam kebudayaan Maya kadang-kadang mencakup area yang sangat luas sehingga menyerupai kota, lebih cocok disebut tempat pusat upacara keagamaan dilangsungkan. Namun antara tahun 800 sampai 950, pusat kegamaan tersebut satu-persatu dilupakan dan ditinggalkan orang. Bangsa Maya mengalami keruntuhan karena penaklukan pasukan Hernando Cortez pada tahun 1521.

2.4       Peradaban dan Identitas Budaya

“Peradaban” dapat juga menggambarkan identitas budaya dari suatu masyarakat yang kompleks. Setiap masyarakat, baik yang dikatakan beradab maupun yang tidak beradab, memiliki ide yang spesifik, adat istiadat, item tertentu dan seni, yang membuatnya unik. Dalam hal seperti ini, peradaban lebih rumit dari budaya. Sastra, seni profesional, arsitektur, agama, adat istiadat dan kompleks terkait dengan para elite termasuk dalam peradaban ini. Peradaban senantiasa menyebar, untuk memiliki lebih banyak, dan memperluas sarana yang digunakan untuk melaksanakannya.

Namun sampai hari ini (2009), beberapa suku atau orang-orang tetap tidak beradab dan budayanya disebut oleh beberapa orang sebagai budaya “primitif”, tetapi bagi sebagian orang istilah “primitif” ini mengandung arti merendahkan. Istilah “Primitif” berasal dari bahasa Latin “primus” yang berarti budaya “pertama”. Sebagai ganti istilah “primitif” banyak antropolog menggunakan istilah “non-melek” (buta huruf) untuk menggambarkan orang-orang seperti ini. (Wikipedia free encyclopedia, 27 September 2009).

Alkitab, misalnya, sementara masyarakat lain menjadi beradab dengan budaya, orang Yahudi telah beradab dengan standar “kesopanan” Bibel, sementara sebagian besar sentimen Roma terfokus pada upaya memperoleh keadilan yang dilakukan dengan cara “sipil”. Pada prinsipnya Alkitab Ibrani atau pendekatan terhadap keadilan orang Yahudi, tidak pernah terbatas pada subjektivitas atau sekedar penampilan, tetapi yang lebih penting, keadilan harus didasarkan atas prinsip-prinsip objektif. “Pada akhirnya, tidak ada kebenaran atau “peradaban”abadi bagi setiap manusia dalam ketiadaan moral yang tenang” (Ultimately, there is no true or lasting “civility” for any man in the absence of moral composure).

Banyak sejarawan telah berfokus pada lingkup budaya yang luas ini dan memperlakukan peradaban sebagai unit tunggal. “Salah satu contohnya adalah pada awal abad kedua puluh filsuf Oswald Spengler, 1911, meskipun menggunakan kata Jerman “Kultur”, “culture” untuk yang kita sebut “peradaban”, mengatakan bahwa koherensi peradaban didasarkan pada satu simbol budaya utama. Siklus pengalaman peradaban dari kelahiran, kehidupan, kemunduran dan kematian, seringkali digantikan oleh peradaban baru dengan potensi budaya baru yang terbentuk di sekitar dan menarik simbol budaya baru.

2.5       Peradaban dan Teori Sistem

Dengan menggunakan teori sistem, kelompok teoritis lain melihat peradaban sebagai suatu sistem yang kompleks, yaitu sebuah kerangka di mana sekelompok objek yang dapat dianalisis bekerja sama untuk menghasilkan beberapa hasil. Peradaban dapat dilihat sebagai jaringan kota-kota yang muncul dari budaya pra-perkotaan, dan didefinisikan oleh ekonomi, militer, diplomatik, dan budaya interaksi di antara mereka. Setiap organisasi adalah suatu kompleks sistem sosial, dan peradaban adalah sebuah organisasi besar. Teori sistem membantu menjaga melawan yang supersifial tetapi menyesatkan analog dalam studi dan deskripsi peradaban.

Sebagai contoh, seorang “ahli perkotaan” (Urbanist), Jane Jacobs mendefinisikan kota sebagai mesin ekonomi yang bekerja untuk menciptakan jaringan besar masyarakat. Menurut pendapatnya, proses utama yang menciptakan jaringan kota tersebut adalah “pemindahan impor” (“import replacement”). Perpindahan impor adalah proses di mana “kelengkapan” (peripheral) kota-kota mulai menggantikan barang dan jasa yang sebelumnya diimpor dari kota-kota yang lebih maju. Perpindahan impor berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi di kota-kota pinggiran tersebut, dan memungkinkan kota ini untuk kemudian mengekspor barang-barang mereka, kuang berkembang kota-kota di daerah-daerah pedalaman menciptakan jaringan ekonomi baru. Jacobs mengeksplorasikan pembangunan ekonomi di seluruh jaringan luas, bukan memperlakukan setiap masyarakat sebagai lingkup budaya yang terisolasi.

Sebagai contoh, sampai abad kesembilan belas jaringan perdagangan jauh lebih besar daripada jaringan lingkup budaya atau politik. Rute perdagangan yang luas, termasuk Sutera melalui Asia Tengah dan Samudera Hindia menghubungkan rute laut Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Persia, India, dan China, yang juga didirikan 2000 tahun yang lalu, ketika peradaban tersebut hampir sama dengan politik, diplomatik, militer, atau hubungan budaya. Bukti pertama seperti pedagangan jarak jauh dalam dunia kuno. Selama fase Uruk, Guillermo Algaze (2004) berpendapat bahwa hubungan perdagangan yang menghubungkan Mesir Mesopotamia, Iran dan Afghanistan). Resin ditemukan kemudian di makam-makam kerajaan Ur yang diperkirakan diperdagangkan dari Mozambik ke utara.

2.6      Masa Depan Peradaban

Ilmuwan politik Samuel P. Huntington mendefenisikan peradaban sebagai budaya tertinggi kelompok masyarakat dan tingkat terluas dari identitas budaya yang membedakan manusia dari spesies lain (the hihghest cultural groupingof people and the broadest level of cultural identity people have short of that which distinguishes humans from other species). Ia mengemukakan wacana “Benturan Peradaban” yang akan terjadi pada abad ke -21. Menurut pendapatnya, konflik antara peradaban akan menggantikan konflik antara negara-bangsa dan konflik ideologi yang menjadi ciri abad ke-19 dan abad ke-20. (Huntington, dalam Simon & Schuster, 1996).

Beberapa ilmuwan lingkungan melihat dunia memasuki fase peradaban Planetary, yang dicirikan oleh pergeseran independent dari terputusnya negara-negara untuk peningkatan konektivitas dunia global dengan lembaga-lembaga di seluruh, tantangan lingkungan, sistem ekonomi, dan kesadaran. (Orion, 2008).

Untuk lebih memahami apa yang dimaksudkannya Planetary Fase peradaban dapat dilihat dalam dilihat dalam konteks penurunan sumber daya alam dan meningkatnya konsumsi, skenario kelompok global yang menggunakan skenario analisis untuk sampai pada tiga pola dasar berjangka yaitu :

(1)   Barbarisasi yang mengakibatkan meningkatnya konflik baik dunia atau menyelesaikan merosotnya (breakdown) benteng masyarakat;

(2)   Konvensional semesta alam, di mana kekuatan-kekuatan pasar atau reformasi kebijakan perlahan-lahan mengendapkan endapan praktek yang lebih berkelanjutan dan,

(3)   Transisi Besar, di mana jumlah gerakan Eco-komunalisme yang terfragmentasi bertambah sehingga dunia yang berkelanjutan atau usaha terkoordinasi secara global dan inisiatif menghasilkan keberlanjutan paradigma baru.

Skala peradaban Kardashev mengklasifikasikannya berdasarkan tingkat kemajuan teknologi, terutama diukur oleh jumlah energi suatu peradaban yang mampu dimanfaatkan dan membuat ketentuan bagi peradaban yang jauh lebih berteknologi maju daripada yang diketahui saat ini.

Skala ini bersifat teoretis dan sangat spekulatif. Pengukuran ini digagas oleh astronom Uni Soviet Nikolai Kardashev pada tahun 1964. Dalam skala Kardashev, terdapat tiga pengelompokan, yaitu Tipe I, II, dan III. Pengelompokan tersebut didasarkan pada penggunaan energi suatu peradaban. Peradaban Tipe I telah mampu menguasai energi planetnya, Tipe II tata suryanya, dan Tipe III galaksinya. Peradaban manusia pada tahun 2010 diperkirakan baru mencapai tipe 0,72. Diperkirakan umat manusia baru akan mencapai Tipe I dalam waktu seratus hingga dua ratus tahun lagi. Tipe II baru bisa dijangkau sekitar beberapa ribu tahun lagi, dan Tipe III dalam waktu 100.000 hingga jutaan tahun.

Peradaban Tipe IV sempat diusulkan. Zoltan Galantai mendefinisikannya sebagai peradaban yang mengendalikan seluruh energi di alam semesta. Peradaban semacam itu ada di luar batas ilmiah saat ini. Sementara itu, dalam bukunya yang bertajuk Parallel Worlds, Dr. Michio Kaku membincangkan peradaban tipe IV sebagai mereka yang mampu memanfaatkan sumber-sumber energi “luar galaksi” seperti energi hitam.

Kritik yang muncul, adalah bahwa kita tidak dapat memahami peradaban yang lebih maju. Kita tak mampu memperkirakan perilaku mereka, sehingga penggambaran Kardashev mungkin tidak menunjukkan apa yang sebenarnya akan terjadi pada peradaban maju di masa depan. Argumen ini dapat ditemui pada buku Evolving the Alien: The Science of Extraterrestrial Life.

2.7     Runtuhnya Peradaban      

Peradaban tidak langsung langgeng dan maju atau meningkat dari waktu ke waktu. Dalam sejarah dunia sering terjadi suatu peradaban besar runtuh dan diganti peradaban baru yang dimulai lagi dari awal, khususnya peradaban yang bersifat materil. Banyak pendapat yang telah diajukan tentang keruntuhan peradaban (The fall of civilizations). Edward Gibbon dalam The Decline and Fall Kekaisaran Romawi mulai tertarik pada tema Keruntuhan Peradaban, yang dimulai dengan divisi historis dari Petrarch antara periode klasik Yunani Kuno dan Roma, sampai abad pertengahan dan masa Renaissance. (Artsi, 2001. http://www.artsci.Isu.edu/voegelin/EVS/Panel72001.html/Petrarch)

Gibbon berpendapat bahwa keruntuhan Roma adalah wajar dan tidak terelakkan karena efek kebesarannya yang tidak wajar. Menurut pendapatnya, kemakmuran mematangkan prinsip pembusukan; penyebab kehancuran yang disebabkan tingkat penaklukan dan, segera setelah kecelakaan menhapus dukungan artificial dan menyerah kepada tekanan dari beratnya sendiri. Hal ini cukup mengejutkan karena peradaban tersebut telah subsisted begitu lama. (Gibbon, 2nd ed., vol. 4, ed. 4). Gibbon menyatakan bahwa tindakan akhir keruntuhan Roma adalah jatuhnya Konstantinopel ke Turki Utsmani pada tahun 1453 Masehi.

Berbeda dengan Gibbon, Oswald Spengler, dalam “Decline of the West” menolak divisi kronologis Petrarch dan mengatakan bahwa pertumbuhan budaya cenderung berkembang ke arah peradaban imperialistis yang akhirnya runtuh, dengan bentuk-bentuk pemerintahan demokratis yang mengantarkan peradaban ke dalam plutokrasi dan akhirnya imperialisme.

Jared Diamond dalam bukunya “Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed” menunjukkan lima alasan utama keruntuhan 41 studi budaya :

(1)   Kerusakan lingkungan, seperti penggundulan hutan dan erosi tanah;

(2)   Perubahan iklim;

(3)   Ketergantungan pada perdagangan jarak jauh untuk memerlukan sumber daya;

(4)   Semakin tingginya tingkat kekerasan internal dan eksternal, perang atau invasi dan

(5)   Tanggapan masyarakat pada masalah-masalah lingkungan.

Peters Turchin dalam Historical Dynamics dan Andrey Korotayev et al. dalam Introduction to Social Macrodynamics, Secular Cycles, and Millennial Trends berpendapat bahwa sejumlah model matematika agraria menggambarkan runtuhnya peradaban. Sebagai contoh, model logika dasar “fiskal-demografis” Turchin yang diuraikan sebagai berikut : selama fase awal dari siklus sociodemographic kita mengamati tingkat produksi dan konsumsi yang relatif tinggi per kapita, yang bukan hanya mengarah untuk tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi, tetapi juga relatif tingginya tingkat surplus produksi. Pada tahap ini penduduk mampu membayar pajak, mengumpulkan aneka pajak sangat mudah, dan pertumbuhan penduduk disertai dengan pertumbuhan pendapatan negara.

Peter Heather dalam The Fall of the Roman Empire: A New History of Rome and the Barbarians berpendapat bahwa peradaban tidak berakhir karena alasan moral atau ekonomi, tetapi karena kontak berabad-abad dengan barbar di seberang perbatasan yang mengasilkan musuh sendiri dengan membuat mereka jauh lebih canggih dan lawan berbahaya. Fakta bahwa Roma membutuhkan pendapatan lebih besar untuk membekali dan memperlengkapi tentara yang berulang kali kalah di lapangan, menyebabkan kemunduran Kekaisaran.

2.8       Modernisasi

Asal kata modo artinya cara dan ernus artinya periode waktu masa kini. Modernisasi sering dilawankan dengan tradisi, menjadi modern adalah merubah tradisi (to be modern is to breaks tradition) dan “meninggalkan masa lampau”, berarti meninggalkan cara-cara hidup masa lalu dan berusaha mencari kesadaran baru dengan bentuk-bentuk ekspresif.

Pengertian menurut beberapa ahli :

Koentjaraningrat menyatakan modernisasi sebagai usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan konstelasi dunia sekarang.

Ogburn dan Nimkoff, modernisasi harus mengarahkan masyarakat agar dapat memproyeksikan diri ke masa depan yang nyata dan bukan angan-angan semu.

Bentuk Perubahan Dalam Modernisasi :

  • Aspek Sosial Demografi
  • Proses perubahan unsur Sosial
  • Ekonomi dan Psikologi masyarakat

Ciri Manusia Modern:

  • Sikap menerima hal baru,
  • Memiliki keberanian untuk berpendapat,
  • Menghargai waktu dan berorientasi ke masa depan,
  • Memiliki perencanaan,
  • Percaya diri,
  • Perhitungan,
  • Menghargai harkat martabat orang lain,
  • Percaya pada iptek,
  • Imbalan harus sesuai dengan prestasi.

Syarat Modernisasi :

  • Cara berpikir ilmiah yang telah tertanam,
  • Sistem administrasi negara yang baik,
  • Sistem pengumpulan data baik dan terpusat,
  • Iklim yang kondusif terutama media,
  • Tingkat organisasi dan disiplin yang tinggi,
  • Desentralisasi wewenang

Gejala Modernisasi :

Bidang budaya : ditandai dengan makin terdesaknya budaya tradisional oleh budaya asing

Bidang politik : semakin banyak negara yang lepas dari jajahannya

Bidang ekonomi : semakin kompleks kebutuhan hidup manusia

Bidang sosial : semakin banyak kelompok baru

Dampak Modernisasi :

Dampak positif modernisasi adalah :

  • Tercapainya kemajuan kebudayaan bangsa
  • Meningkatnya industri yang memungkinkan masyarakat lebih sejahtera (lapangan kerja, barang konsumsi, volume ekspor dan lain-lain)
  • Meningkatnya efesiensi dan efektifitas kerja, transportasi dan komunikasi
  • Meningkatnya sector ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kualitas sumber daya manusia.

Dampak negatif modernisasi antara lain :

  • Pudarnya pengetahuan tradisional
  • Pudarnya sistem kepercayaan atau religi tradisional
  • Bergesernya nilai budaya akibat kemajuan di bidang teknologi dan pengetahuan
  • Melemahnya etos kerja tradisional
  • Meningkatnya angka kriminalitas dan kenakalan remaja
  • Meningkatnya tingkat pencemaran lingkungan
  • Menimbulkan kesenjangan sosial ekonomi
  1. 9 Globalisasi

Banyak teori berpendapat bahwa seluruh dunia telah terintegrasi ke dalam satu system dunia,sebuah proses yang dikenal sebagai globalisasi yang berkaitan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular dan bentuk interaksi lainnya.

Menurut beberapa ahli, yaitu :

Ø Wilkinson(2001), menjelaskan latar belakang glpbalisasi dari Mesopotania dan Mesir yang disebut sebagai “Peradapan Tengah”, yang diciptakanoleh ekonomi militer dan integrasi diplomatic dari Mesopotania dan Mesir sekitar tahun 1500 SM.

Ø Lewis dan Harris(1992) mendefinisikan globalisasi sebagai “konvergensi ekonomi dan difusi inovasi”. Ini menyiratkan bahwapraktik-praktik ekonomi dan motivasi dari berbagai Negara akan menjadi lebih mirip satu sama lain dan pengetahuan lanjutan akan mengalir dari Negara-negara naju ke Negara yang ekonominya dianggab kurang maju.

Ø Robert A.Sirico(2009), dari sisi kerohanian menjelaskan bahwa globalisasi sebagai paradigm baru untuk menggambarkan cara dimana keluarga manusia dapat berhubungan satu sama lain. Globalisasi meningkatkan keterkaitan antara semua bangsa dimuka bumi ini.

Proses Globalisasi

  1. Bangkitnya perekonomian internasional, ditandai dimulai dengan adanya perdagangan

internasional (adanya jalur dagang sutra Cina 1000 – 1500 SM )

  1. Dominasi perdagangan kaum Muslim di Asia dan Afrika
  2. Eksplorasi dunia oleh negara-negara Eropa
  3. Munculnya perusahaan – perusahaan multinasional
  4. Runtuhnya komunisme dan menyebarnya kapitalisme
  5. Pasar bebas

Dampak positif globalisasi

  1. Masuknya nilai – nilai positif (disiplin, etos kerja, pentingnya pendidikan).
  2. Mempercepat proses pembangunan karena perkembangan iptek.
  3. Menumbuhkan dinamika terbuka dan tanggap terhadap unsur –unsur pembaruan.

Dampak negatif globalisasi

  1. Terjadinya cultural shock, yaitu masyarakat mengalami disorientasi dan frustasi karena tidak siap menerima kenyataan perubahan akibat globalisasi.
  2. Terjadinya cultural lag yaitu unsur – unsur globalisasi tidak berlangsung secara serempak.
  3. Anomi, yaitu keadaan tanpa nilai karena nilai dan norma lama telah ditinggalkan sedang nilai dan norma baru belum terbentuk.

Pengaruh globalisasi pada masyarakat membagi (shared) gagasan dan moralitas bersama manusia, juga dapat menjadi positif yang tidak pernah tidak pernah terjadi dalam sejarah masyarakat yag memiliki ide – ide dan karakteristik budaya yang begitu mudah untuk dibagi. Disamping itu, globalisasi juga berpotensi besar meningkatkan pelanggaran – pelanggaran martabat manusia. Pembangunan ekonomi yang lebih besar berarti membutuhkan tambahan modal yang lebih besar. Bisnis atau Negara dapat meningkatkan modal melalui pinjaman atau ‘’ investasi asing lansung .‘’ korupsi, ketidakmampuan, atau keadaan dapat menyebabkan bisnis atau pendapatan Negara lebih rendah daripada yang diharapkan dan mengakibatkan krisis pembayaran utang yang dapat mengakibatkan penghematan langkah – langkah yang tidak professional yang menguntungkan kreditur dan menyakiti orang miskin.

Globalisasi juga menimbulkan tantangan besar jangka panjang untuk budaya yang munculnya keraguan yang meluas kepada adanya kebenaran universal dan abadi dan keraguan terhadap penyalahgunaan kebebasan budaya. Pihak yang lemah tampaknya hanya memiliki sedikit kekuatan untuk menawarkan budaya orang miskin, orang yang belum lahir, orang tua, dan penyandang cacat yang menjadi beban harus terpikirkan, terbatas, dan bahkan menghancurkan dan tidak diakui sebagai orang –orang yang patut dihormati dan soladaritas.

Hal-hal yang dapat ditawarkan oleh proses globalisasi antara lain adalah agar globalisasi dapat menjadi salah satu sumber daya besar yang membawa misi globalisasi universalitas untuk memastikan pelayanan kepada manusia. Dengan ini manusia dapat saling melengkapi dengan manusia di seluruh dunia. Bahwa kebenaran dan masyarakat disekitarnya memberanikan kita untuk menyatakan secara tegas dan mutlak martabat setiap setiap pribadi manusia. Tantangan didepan kita sekarang adalah menggunakan informasi dan jaringan secara efektif untuk mengembangkan apologetika positif yang akan mempengaruhi pembawa budaya hari ini . (Robert A. sirico, 2009, action institute)

Globalisasi dapat didefenisikan sebagai modal ‘’mengantarbangsakan’’ (transnationalization) produksi dan mengantarbangsakan standardisasi dan homogenisasi selera konsumen. Hal ini merupakan perluasan prinsip – prinsip, kebijakan, dan praktek kapitalisme skala global yang dibantu oleh sarana riset modern, produksi, distribusi, dan aliran uang yang cepat melalui sarana elektronik terkomputerisasi. Sekarang globalisasi sangat ditentukan oleh Negara Negara dan kelompok – kelompok yang kuat secara financial.(balasuriya, 2009),

http://www.religion-online.org/showhapter.asp? Title =1449&c=1277)

2.10     Komunikasi Antar Budaya

Komunikasi antar budaya memiliki banyak defenisi namun pada dasarnya adalah orang-orang dari berbeda latar belakang budaya berusaha untuk berkomunikasi atau bekerja bersama sama. Tujuan komunikasi antar budaya adalah untuk membangun dan memahami bagaimana orang –orang dari yang berbeda berperilaku dan berpikir dan orang mengatasi perbedaaan perbedaaan antar – budaya dan membuat yng lebih baik.

Dalam konteks global atau organisasi bisnis, komunikasi antar budaya melihat bagaimana orang berkomunikasi (verbal dan nonverbal), mengelola, bekerja sama, bernegosiasi beertemu, menyapa, menbangun hubungan dan sebagainya, topik – topik ini sekarang menjadi jauh lebih relavan dibidang bisnis dengan kerjasama masyarakat antar budaya dan untuk bisnis perdagangan luar negeri. Lebih memahami perbedaan komunikasi antar budaya, tata krama, etiket, protokol dan gaya komunikasi tentu mengarah pada probabilitas yang jauh lebih tinggi untuk mencapai tujuan bisnis. Akhirnya komunikasi antar budaya dewasa ini berarti mendapatkan keunggulan dalam bisnis yang sangat kompetitif dan cepat berubah dewasa ini.

2.11     Mengendalikan Globalisasi

G20 pada dasarnya adalah usaha yang teroganisir untuk mengendalikan proses globalisasi yang mempengaruhi setiap individu negara temasuk Indonesia , kita perlu memiliki pehamaman yang lebih mendalam tentang bagaimana globalisasi yang menimbulkan resiko yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehadiran Indonesia dalam pertemuan G20 baru – baru ini diadakan di London telah meningkatkan pengaruh negara di dunia. Ini adalah langkah strategis mengingat kegagalan pemerintah Indonesia masa lalu peluang dalam memainkan peran lebih besar dalam ekonomi politk global.

Para pemikir social amerika seperti MaLuhan, Daniel bell, dan Alvin Toffer pada dasarnya membayangkan globalisasi sebagai suatu ramalan. Globalisasi bukanlah kenyataan yang didorong oleh kekuatan kekuatan alam, tetapi dibangun oleh sebuah wacana intelektual yang kemudian membimbing gerakan ekonomi politik dunia. Selama empat puluh tahun, globalisasi telah merambah hampir kesetiap sudut dunia.

Dalam in defense of globalitization, jagdish bhagwati berusaha untuk menyoroti efek positing dari proses globalisasi dan perspektif ekonomi international. Bhagwati berpendapat bahwa globalisasi memainkan peran positif dalm meningkatkan kehidupan orang orang dunia ketiga, dia merujuk ke india dimana globalisasi telah melakukan banyak kebijakan dalam mengurangi pekerja anak, buta huruf dan perempuan kemiskinan. Hal ini sejalan dengan argument yang dibuat oleh beberapa ekonom Indonesia yang menekankan manfaat dari arus global ke Negara. Bhagwati dan sarjana pro- globalisasi lainnya mungkin benar. Namun demikian setiap ilmuan social sangat menyadari bahwa setiap perubahan dalam masyarakat selalu datang dengan konsekuensi yang tidak diinginkan. Globalisasi tidak bebas dari aksioma ini. Seperti telah diuraikan dalam ‘’ world risk society ‘’, Ulrich bekc berpendapat bahwa globalisasi tidak hanya menghasilkan resiko merusak secara fisik tetapi juga resiko social ekonomi yang didistribusikan diseluruh bangsa.

Untuk memahami bagaimana hal ini mungkin, suatu kerangka imajinatif dari sosiolog Manuel Castell membantu menjelaskan globalisasi sebagai proses integrasi dari setiap individu dan kelompok mengelilingi bumi menjadi sebuah jaringan raksasa yang ditengahi melalui infrstruktur   informasi. Dia merujuk pada ‘’jaringan ‘’ (web) kompleks ini sebagai jaringan masyarakat. Konsep ini berguna untuk mengungkapkan bagaimana globalisasi di bangun secara acak membawa resiko jaringan masyarakat yang fatal. Seperti globalisasi yang di bentuk oleh jaringan sistem lokal yang memfasilitasi pertukaran informasi, barang, modal, dan tenaga kerja, yang sangat berstruktur jaringan, rentan terhadap dampak parah akibat dinamika sosial-politik dari sistem lokal. Kerusakan di setiap sudut jaringan ini akan mudah menyebar menciptakan kerusakan pada seluruh sistem. Risiko seperti ini juga lazim terjadi pada sistem keuangan global yang di bentuk oleh jaringan lokal lembaga keuangan independen. Jika salah satu lembaga lokal mengalami kerusakan, selurun jaringan akan terkena risiko fatal. Ini adalah risiko globalisasi. Tapi yang lebih penting risiko sistem keuangan global, seperti yang telah di amati Boiden Deidre, tidak terletak pada sirkulasi modal, tetapi dalam sirkulasi kepercayaan setiap aktor mencurahkannya ke sistem. Jika sirkulasi kepercayaan tumbuh tipis, maka seluruh sistem keuangan global akan mengalami krisis kemudian mungkin runtuh.

Pelajaran yang didapat Indonesia adalah belajar dari risiko globalisasi. Ini adalah usaha yang relevan sebagai bangsa yang berada dalam proses memilih pemimpin untuk lima tahun mendatang, suatu periode di mana struktur globalisasi akan difigurasikan kembali. Siapa pun mendapat kesempatan untuk memimpin negara perlu berhati-hati dalam menghadapi globalisasi ini, tetapi tentu saja dengan mengisolasi negara dari ekonomi global bukanlah arah yang bijaksana. Kebutuhan krusial negara adalah mekanisme perlindungan untuk membatasi dampak negatif dari proses globalisasi terhadap perekonomian nasional dan stabilitas sosial.


 

BAB III

PENUTUP

 

3.1      Kesimpulan

Peradaban adalah budaya tertinggi dari kelompok masyarakat dan tingkat terluas dari identitas budaya yang membedakan manusia dari spesies lain. Peradaban kuno berlangsung antara 600 SM-400SM di mana serangkaian orang bijak, nabi, agama dan filsuf reformis, dari Cina, Irian, Israel dan Yunani, mengubah arah peradaban selamanya. Peradaban dunia sepanjang masa di kelompokkan dalam beberapa gugus yaitu peradaban Mediterania, Peradaban Timur Tengah, Peradaban India Hindu Budha, Peradaban Asia Timur, Asia Tengah, Asia Tenggara, Kristen Barat, dan peradaban Meso-Amerika

Penganut teori sistem melihat peradaban sebagai jaringan kota-kota yang muncul dari budaya pra-perkotaan, dan didefinisikan oleh ekonomi, politik, militer, diplomatik, dan budaya interaksi di antara mereka. Ciri khas dari abad ke-21 terjadinya benturan peradaban. Konflik antara peradaban akan menggantikan konflik antara negara-bangsa dan konflik ideologi yang menjadi ciri abad ke-19 dan abad ke-20. Kesusakan lingkungan, seperti penggundulan hutan dan erosi tanah, perubahan iklim; ketergantungan pada perdagangan jarak jauh untuk memerlukan sumber daya; semakin tingginya tingkat kekerasan internal dan eksternal, perang atau invasi dan tanggapan masyarakat pada masalah-masalah lingkungan, akan mengakibatkan keruntuhan peradaban.

Konflik teori dalam ilmu sosial juga memandang bentuk peradaban sekarang sebagai peradaban yang didasarkan pada dominasi beberapa orang oleh orang lain, tetapi tidak menilai masalah moral.

3.2       SARAN

Benturan Peradaban pada masa lalu hingga sekarang tentunya memiliki konflik baik kecil maupun besar dan tentu akan mengakibatkan runtuhnya Peradaban. Oleh karena itu, bagaimana kita menjaga perdamaian sehingga kekerasan internal dan eksternal, perang serta masalah-masalah lingkungan tidak terjadi lagi.

Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca agar kami dapat memperbaiki dan memperbaharui makalah ini menjadi lebih baik lagi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Gibbon, 1909, Decline and Fall of the Roman Empire, 2nd Edition, Vol. 4 ed. by JB Bury (London, 1909), pp. Oleh JB Bury , hlm. 173 – 174, dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Civilization#Derfinition 22 – 09 – 2009.

Huntington, Samuel P.,1996, The Clash of Civilizations abd the Remaking of World Order, (Simon & Schuster)

Tim Dosen ISBD, 2012, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Medan : UPT – MKU Universitas Negeri Medan

http://www.action .org/publications/randl/rl_articel_483.php

http://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Kardashev

http://luwesagustina.blogspot.com/2010/10/ringkasan-modernisasi-globalisasi.html

http://mohat.blogdetik.com/2010/05/23/sejarah-peradaban-bangsa-aztec-inca-dan-maya/

http://www.artsci.Isu.edu/voegelin/EVS/Panel72001.html/Petrarch

http://www.gtinitiative.org/documents/Great_Transitions.pdf

silahkan download disini download

Iklan
Pos ini dipublikasikan di makalah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s