MAKALAH TEORI SASTRA MARXIS

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………. i

DAFTAR ISI   ……………………………………………………………………………… ii

BAB I   PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang   1

1.2 Rumusan masalah 2

1.3 Tujuan Penulisan 2

1.4 Metode Penelitian 2

BAB II   PEMBAHASAN   3

11.1    Sejarah Pertumbuhan 3

11.1.1 Teori Sastra Marxis 6

11.1.2 Sastra Sebagai Cermin 7

BAB III  PENUTUP 9

111.1 Kesimpulan 9

111.2 Saran. 9

DAFTAR PUSTAKA.. 10

ii

BAB I   PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang

Sosialogi Sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memilki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemology yang berbeda dari pada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otomi sastra. Penelitan-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat. Dengan demikian memiliki keterkaitan resiprotral dengan jaringan-jaringan system dan nilai dalam  masyarakat tersebut ( Soemanto, 1993; Levin 1973 : 56). Sebagai suatu bidang teori, mata sosiologi sastra dituntut memenihu persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.

Istilah sosiologi sastra dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status social dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Merekla memandang bahwa karya sastra (baik aspek idi maupun bentuknya) secara mudah terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan social suatu periode tertentu (Abrams, 1981 : 178).

1.2      Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :

  • Bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga factor
  • Apakah Sastra itu mencerminkan realitas ?

1.3      Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pengertian dan pemahaman bagi kita, yaitu pemahaman tentang Teori Mimetik, Teori ini sangat berguna bagi kita dalam dunia pendidikan.

1.4      Metode Penelitian

Metode yang dilakukan dalam peniulisan makalah ini adalah melalui metode kepustakaan, yakni mengumpulkan data melalui situs internet dan buku panduan.

BAB II   PEMBAHASAN

11.1     Sejarah Pertumbuhan

Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya, dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah ‘mimesis’, yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai ‘cermin’.

Pengertian mimesis (Yunani ; perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan dari abad kea bad sangat mempengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa.(Van Luxemburg, 1986 : 15).

Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide asti (semacam gambar induk) jika seorang tukang membuat sebuah kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia ide-ide. Jiplakan auat copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya; kenyatan yang kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia ide. Seni pada umumnya hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang ‘kenyataan’ (yang juga hanya tiruan dari “Kenyataan yang sebenarnya”) sehingga tetap jauh dari “kebenaran”. Oleh karena itu berhagalah seorang tukang daro pada seniman karena seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copu.

Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato yakni seni menggambarkan kenyataan, tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang haru karena ‘kenyataan’ itu tergantung pula pada sikap kreatif orang dalam memandang kenyataan. Jadi sastra bukan lagi copy )jiblakan) atas copy (kenyataan) melainkan sebagai seuatu ungkapan atau perwujudan mengenai “universalia” (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang wujudnya kacau, penyair memilih beberapa unsur lalu menyusun suatu gambaran yang dapat kita pahami, karena menampilkan kodrat manusia dan kebenarana universal yang berlaku pada segala jaman.

Levin (1973:56-60)mengungkapan bahwa konsep ‘mimesis’ itu mulai dihidupkan kembali pada jaman humanisme Renaisance dan nasionalisme Romantik. Humanisme Renaisance sudah berupaya menghilangkan perdebatan principal antara sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham paham bahwa masing-masing kesustraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki pembayangan historis dalam jamannya. Dasar pembayangan historis ini telah dikembangkan pula dalam zaman nasionalisme romantic, yang secara khusus meneliti dan menghisupkan kembali tradisi-tradisi asli berbagai Negara dengan suatu perbandingan geografis. Kedua pandangan tersebut kemudian diwariskan kepada zaman berikutnya, yakni positivism ilmuah.

Pada zaman positivism ilmiah, muncul tokoh sosiologi sastra terpenting : Hippolyte Taine (1766-1817). Dia adalah seorang sejarawan kritikus naturalis Perancis, yang serig dipandang sebagai peletak dasar bagi sosiologi sastra modern. Taine ingin merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti. Dalam bukunya History of English Literature (1863) dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga factor, yakni ras, saat (momen), dan lingkunagn (milieu). Bila kita mengetahui fakta tentang ras, lingkungan dan momen,maka kita dapat memahami iklim rohani suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta karyanya. Menurut dia factor-faktor inilah yang menghasilkan struktur mental 9pengarang) yang selanjutnya diwujudkan dalam sastra dan seni.adapun ras itu apa yang diwarisi oleh manusia dalam jiwa dan raganya. Saat (momen) ialah situasi social-politik pada suatu periode tertentu. Lingkungan meliputi keadaan alam, iklim dan social. Konsep Traine mengenai lineu inilah yang kemudian menjadi mata rantai yang menghubungkan kritik sastra dengan ilmu-ilmu social.

Pandangan Traine, terutama yang dituangkan dalam buku sejarah Kesastraaan Inggris, oleh pembaca kontemporer asal Swiss, Amiel, dianggap membuka cakrawala pemahaman baru yang berbeda dan cakrawala anatomis kaku (strukruralisme). Yang berkembang waktu itu. Bagi amiel, buku Taine ini membawa aroma baru yang segar bagi model kesustraan Amerika di masa depan.sambutan yang hangat terutama dating dari Flaubert (1864). Dia mencatat, bahwa Taine secara khusus telah menyerang anggapan yang telah berlaku pada masa itu bahwa Karya sastra seolah-olah merupakan meteor yang jatuh dari langit. Menurut Flaubert, seklaipun segi-segi social tidak diperlukan dalam pencerapan estetik, sukar bagi kita untuk mengingkari keberadaannya. Factor lingkungan ini seringkali mendapat kritik dari golongan yang percaya pada ‘misteri’ (ilham). Menurut Taine, hal-hal yang dianggap misteri itu sebenarnya dapat dijelaskan dari lingkungan social asal misteri itu. Sekalipun penjelasan Taine ini memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, khususnya dalam penjelasannya yang sangat positivistic, namun telah menjadi pemicu perkembangan pemikiran intelektual di kemudian hari dalam merumuskan disiplin sosiologi sastra.

11.1.1  Teori Sastra Marxis

Pendekatan sosiologi sastra paling terkemuka dalam ilmu sastra adalah Marxisme. Kritikus-kritikus Marxis biasanya mendasarkan teorinya pada doktrin Manifesto Komunis (1848) yang diberikan oleh Marx dan Friedrich Engels, Khususnya terhadap pernyataan bahwa perkembangan evolusi historis manusia dan institusi-institusi ditentukan oleh perubahan mendasar dalam produksi ekonomi. Perubahan itu mengakibatkan perombakan dalam struktur kelas-kelas dalam ekonomi, yang dalam setiap jaman selalu bersaing demi kedudukan social ekonomi dan status politik. Kehidupan agama , intelektual, dan kebudayaan setiap jaman termasuk seni dan kesusastraan merupakan ‘ ideology-ideologi’ dan suprastruktur-suprastruktur’ yang berkaitan secara dialektikal, dan dibentuk atau merupakan akibat dari struktur dan perjuangan kelas dalam jamannya (Abrams, 1981 : 178).

Sejarah dipandang sebagai suatu perklembangan yang terus menerus. Daya-daya kekuatan ddalam kenyataan secara progresif selalu tumbuh untukj menuju kepada suatu masyarakat yang ideal tanpa kelas. Evolusi ini tidak berjalan dengan mulus melainkan penuh hambatan – hambatan. Hubungan ekonomi menimbulakn berbagai kelas social yang saling bermusuhan. Pertentangan kelas yang terjadi pada akhirnya dimenangkan oleh suatu kelas tertentu. Hubungan produksi yang baru perlu melawan kelas yang brkuasa agar tercapailah suatu tahap masyarakat ideal tanpa kelas, yang dikuasai oleh kaum proletar.

Bagi Marx, sastra dan semua gejala kebudayaan lainnya mencerminkan pola hubungan ekonomi karena sastra terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, karya sastra hanya dapat dimengerti jika dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut. (Van Luxemburg, 1986:24-25). Menurut Lenin, seorang tokoh yang dipandang sebagai peletak dasr bagi kritik sastra Marxis, sastra (dan seni pada umumnya) merupakan suatu sarana penting dan strategis dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme.

11.1.2  Sastra Sebagai Cermin

Geoge ucas adalah seorang kritikus Maxis terkemuka yang berasal dari Hungaria dan menulis dalam bahasa Jerman (Damono, 1979 : 31). Lukacs mempergunakan istilah “cermin” sebagai cirri khas dalam keseluruhan karyanya. Mencerminkan menurut dia, berarti menysusn sebuah struktur mental. Sebuah novel tidak hanya mencerminkan ‘realitas’ teapi lebih dari itu memberikan kepada kita “sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebihy dinamik” yang mungkin melampau pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melainkan lebuh merupakan sebuah ‘proses yang hidup’. Sastra tidak mencerminkan sealitas sebagai semacam fotografi, melainkan lebih sebagai suatu bentuk khusus yang mencerminkan realitas. Dengan demikian, sastra dapat mencerminkan realitas secara jujur dan objectif dan dapat juga mencerminkan kesan realitas subjektif (Selden, 1991 : 27).

Kukacs menegaskan pandangan tentang karya realism yang sungguh-sungguh sebagai karya yang memberikan perasaan artistic yang bersumber dari imajinasi-imajinasi yang diberikannya. Imajinasi-imajinasi itu memiliki totalitas intensif yang sesuai dengan totalitas ekstensif dunia. Penulis tidak memberikan gambaran dunia abstrak melainkan kekayaan imajinasi dan kompleksitas kehidupan untuk dihayati untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang ideal. Jadi sasarannya adalah pemecahan kontradiksi melalui dialektika sejarah.

BAB III

PENUTUP

111.1   Kesimpulan

Dalam studi-studi sosiologi terhadap sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra dalam taraf tertentu merupakan ekspresi masyarakat dan bagian dari suatu masyarakat. Kenyataan inilah yang menarik perhatian para teoritis sosiologi sastra untuk mencoba menjelaskan pola dan model hubungan resiprotal itu.

111.2   Saran

Membaca sastra tentang teori mimetic dapat menambah pengetahuan kita dan mengetahui nama peneliti-peneliti yang terdapat dalam karya sastra

 

DAFTAR PUSTAKA

Korrie , Layun Rampan, 2000. Angkatan 2000 Dalam Sastra Indonesia

Jakarta : Garuda.

Eneste, Pemusuk, 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia.

Jakarta : Penerbit Buku Kompas.

W.S. Hasanuddin, dkk. 2004. Eksiklopedi Sastra Indonesia

Bandung : Titian Ilmu

Rani, Supratman Abdul, dkk. 2006. Intisari Sastra Indonesia

Bandung : CV. Pustaka Setia.

silahkan download disini DOWNLOAD

Iklan
Pos ini dipublikasikan di makalah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s