MAKALAH PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERAN PEMERINTAH DALAM MENANGANI KASUS PIDANA DI INDONESIA

SILAHKAN DOWNLOAD DISINI

 

MAKALAH

 

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERAN PEMERINTAH DALAM MENANGANI KASUS PIDANA DI INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

OLEH :

  1. HERLIAN
  2. SALIDA

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AKHWAL AL-SHAKSHIYAH

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BUTON

BAUBAU

2016


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kita selalu panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua sehingga penyusunan makalah ini dengan judul “Psikologi Agama” dapat terselesaikan,  Shalawat serta salam selalu kita kirimkan kepada panutan dan tauladan hidup kita, yakni nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa hidup kita ini dari zaman kegelapan ke zaman terang-benderang.

Dalam penyusunan makalah ini. Penulis tidak dapat menyelesaikan makalah ini tanpa adanya bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis sangat berterima kasih kepada Dosen Pembimbing yang telah mendukung pembuatan makalah  ini.

Sungguh merupakan suatu kebanggaan dari penulis apabila makalah  ini dapat terpakai sesuai fungsinya, dan pembacanya dapat mengerti dengan jelas apa yang dibahas didalamnya. Tidak lupa juga penulis menerima kritikan dan saran yang membangun, yang sangat diharapkan demi memperbaiki pembuatan makalah di kemudian hari.

 

Baubau,     Juni 2015

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.. i

DAFTAR ISI. ii

BAB  I PENDAHULUAN.. 1

  1. Latar Belakang. 1
  2. Rumusan Masalah. 1
  3. Tujuan. 1

BAB II PEMBAHASAN.. 2

  1. Peran Hukum Islam terhadap Kasus Pidana Masa Kini 2
  2. Peran Pemerintah Menangani Kasus Pidana Saat Ini 7
  3. Pandangan Hukum Islam terhadap Hukum di Indonesia saat ini 9

BAB III PENUTUP.. 15

  1. Kesimpulan. 15
  2. Saran. 15

DAFTAR PUSTAKA.. 16

 

 

 

 

BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Beberapa  bulan  terakhir  ini,  kasus  kekerasan  seksual  pada  anak  kembali  marak  terjadi  di  Indonesia.  Seperti  yang  diberitakan  oleh  beberapa  media,

Komnas  Anak  mencatat  bahwa  kasus  kekerasan  seksual  pada  anak  terjadi  di

Indonesia  kini  mencapai  730  kasus.

Jika  kita  melihat  lebih  jauh,  kekerasan  seksual  pada  anak  beragam  modusnya,  ada  yang  menjadi  pegawai  pajak,  kasus  pencabulan  anak  jalanan  yang  dilakukan  oleh  koordinatornya  dan  sebagainya.

Kekerasan   seksual   pada   anak   ini   sangatlah   memprihatinkan   banyak   pihak  sekolah-sekolah serta ibu-ibu yang memiliki anak.

Kekerasan  seksual

(sexual  violence)

terhadap  anak  merupakan  bentuk perlakuan  yang  merendahkan  martabat  anak  dan  menimbulkan  trauma  yang  berkepanja ngan.  Bentuk   perlakuan  kekerasan   seksual  seperti  digerayangi,  diperkosa, dicabuli  atapun  digaulli

dengan paksaan telah membawa  dampak  yang  “Indonesia Harus Perangi Kejahatan Seksual Terhadap Anak” lebih  lengkap sangat endemik, dalam kacamata psikologis anak akan menyimpan semua derita yang pernah ada, terlebih kekerasan seksual pada anak.

Kekerasan seksual yang ditonjolkan hari-hari ini merupakan pembuktiaan

bahwa  bentuk  eksploitasi  terhadap  anak  dilakukan  oleh  pelaku  yang  memiliki kekutan  fisik  lebih,  hal  itu  dilakukan  demi  kepuasan  seksual  orang  dewasa.

Kekuatan fisik dijadikan  sebagai  alat untuk mempelancar usaha-usaha jahatnya.

Pelaku dapat dengan mudah memperdayakan anak sehingga mau menuruti segala

perintah orang yang meyuruhnya. Apabila jika perintah tersebut diimingi-imingi,

dijanjikan  dengan  sesuatu  atau  dibujuk  oleh  pelaku,  hingga  akhirnya  korban

diperlakukan serta dilecehkan dengan beragam bentuk.

Kekerasan seksual terhadap anak juga dikenal dengan istilah child sexual abuse.  Dalam  banyak  kejadian,  kasus  kekerasan  seksual  terhadap  anak  sering tidak dilaporkan kepada kepolisi. Kasus tersebut cenderung dirahasiakan, bahkan

jarang  dibicarakan  baik  oleh  pelaku  maupun  korban.  Para  korban  merasa  malu  karena menganggap hal itu sebagai sebuah aib  yang harus disembunyikan rapat-rapat  atau  korban  merasa  takut  akan  ancaman  pelaku.  Sedangkan  si  pelaku

merasa malu dan takut akan di hukum apabila perbuatannya di ketahui.

Lihat  pula  hasil  monitoring  korban kekerasan  seksual  oleh  LBH  Jakarta.  LBH  Jakarta,

Mengawal Perlindungan Anak berhadapan dengan Hukum,

(Jakarta: LBH Jakarta, 2012), hal. 93

dan 124

4

Abdul   Wahid   dan   Muhammad   Irfan,

Perlindungan   Terhadap   Korban   Kekerasan

seksual: Advokasi atas Hak Asasi Perempuan

,

(Bandung: RefikaAditama, 2001),

hal. 32.

3

Keenggan  pihak  keluarga  melaporkan  kasus

child  sexual  abus

e

yang

dia

lami,  bisa  jadi  merupakan  salah  satu  sebab  kasus  tersebut  menjadi  seperti

fenomena  gunung  es.  Karena  yang  tampak  hanya  sebagai  kecil  saja,  sedangkan

bagaian  besar  tidak  tampak.

Apalagi  jika  kasus  tersebut  menyangkut  pelaku

orang  terkenal,  tokoh  m

asyarakat,  dikenal  dengan  dekat  oleh  korban  atau  ada

hubungan keluarga antara korban dan pelaku.

5

Kekerasan seksual terhadap anak merujuk pada prilaku seksual yang tidak

wajar  dalam  berhubungan  seksual  merugikan  pihak  korban  yang  masih  anak-

anak  dan  merusak  kedamaian  ditengah  masyarakat,  adanya  kekerasaan  seksual

yang  terjadi,  maka  penderitaan  korbannya  telah  menjadi  akibat  serius  yang

membutuhkan perhatian.

6

Child  abuse

antara  lain  dirumuskan  sebagai  suatu  bentuk  tindakan  yang

bersifat tidak wajar pada anak dan biasanya dilakukan oleh  orang dewasa. Para

pakar  umumnya  memberikan  definisi  ini  menjadi  suatu  bentuk  perlakuan  salah

terhadap   anak   baik   secara   fisik   (

physically   abused)

seperti   penganiayaan,

pemukulan,    melukai    anak,    maupun    kejiwaan    (

mentally    abused

)    seperti

melampiaskan  kemarahan  terhadap  anak  dengan  mengeluarkan  kata-kata  kotor

dan  tidak  senonoh.  Bentuk  lain  dari  tindakan  tidak  wajar  terhadap  anak  dapat

5

Lihat  kasus di tanjung priok yang melibatkan seorang tokoh masyar

akat

. LBH Jakarta,

Mengawal  Perlindungan  Anak  berhadapan  dengan  Hukum,

(Jakarta:  LBH  Jakarta,  2012),  hal.

113

6

Abdul   Wahid   dan   Muhammad   Irfan,

Perlindungan   Terhadap   Korban   Kekerasan

seksual: Advokasi atas Hak Asasi Perempuan

,

(Bandung: RefikaAditama, 2001

),hal. 32.

4

juga berbentuk perlakuan salah secara seksual (

sexual abused

). Contoh tindakan

ini antara lain kontak seksual langsung  yang dilakukan antara orang dewasa dan

anak  berdasarkan  paska  (perkosaan)  maupun  tanpa  paksaan  (

incest).

Tindakan

perlakuan   salah   secara   seksual   lainnya   adalah   eksploitasi   seksual   seperti

prostitusi anak dan pelecehan seksual terhadap anak.

7

Kekerasaan  dan

abuse

seksual  pada  masa  kanak

-kanak  sering  tidak

teridentifikasikasi  karena  berbagai  alasan  (terlewat  dari  perhatiaan,  anak  tidak

dapat  memahami  apa  yang  terjadi  pada  dirinya,  anak  diancam  pelaku  untuk

ti

ndak   melaporkan   kejadiaan   yang   dialaminya,   atau   laporan   anak   tidak

ditanggapi  secara  serius  karena  berbagai  alasaan  misalnya,  atau  laporan  anak

tidak  ditanggapi  secara  serius  karena  berbagai  alasaan  misalnya  anak  tidak

dipercaya,   atau   reaksi   denial,   pengingkaran   dari   orang-orang   dewasa   yang

dilapori anak tentang kejadiaan sesungguhnya.

8

Kekerasaan  seksual  dapat  terjadi  di  dalam  lingkungan  keluarga  maupun

diluar  keluarga  (masyarakat).  Perbuatan  tersebut  dapat  dilakukan  oleh  mereka

yang mempunyai hubungan sebagai anggota keluarga, kerabat, tentangga bahkan

7

Abdul   Wahid   dan   Muhammad   Irfan,

Perlindungan   Terhadap   Korban   Kekerasan

seksual: Advokasi atas Hak Asasi Perempuan

,

(Bandung: Refika

Aditama, 2001),

99

8

  1. Kristi Poerwandari,

Mengungkap  Seluung  Kekerasan:  Telaah  Filsafat  Manusia,

(Bandung:

Eja Insani, 2004

),

hal.8

5

orang  yang  tidak  dikenal  oleh  si  anak.

9

Anak

memiliki  posisi  yang  paling  lemah

dalam  lingkungan  keluarga,  masyarakat  dan  negara.

10

Anak

merupakan  individu

yang  belum  baik  secara  fisik,  mental  maupun  sosial  karena  kondisinya  rentan,

tergantung  dan

masih

berkembangjika  dibandingkan  denga

n

orang  dewasa  jelas

anak  lebih  beresiko  tehadap  tindakan  kekerasaan,  eksloitasi,  penelantaran,  dan

lain

-lain.

Secara  umum  akibat  dari  kekerasaan  terhadap  anak  adalah  sangat  serius

dan  berbahaya  karena  seseorang  anak  sedang  berada  pada  masa  pertumbuhan

baik   fisik   maupun   mental.   Secara   anak   yang   menalami   kekerasan   jika

penananannya  tidak  tepat  maka  ia  akan  mengalami  cacat  yang  bukan  pada  fisik

saja  tetapi  juga  pada  mental  dan  emosinya.  Kecacatan  mental  dan  emosi  inilah

yang  akan  merubah  hidup  dan  masa  depan  serta  akan  dibawanya  serus  hingga

dewasa.

Kebanyakan  korban  kekerasaan  seksual  pada  anak  berusia  sekitar  5

hingga 11 tahun. Bahkan kasus yang terbaru yaitu bayi berumur 9 bulan menjadi

korban  kekerasan  seksual  pula

.

11

Bagi  pelaku  jenis  kelamin  tidak  berpengaruh

9

Purnianti,

Informasi Masalah Kekerasan Dalam  Keluarga

, (Jakarta: Mitra  Perempuan,

1999),

hal

. 95.

10

YLBHI,

Panduan  Bantuan  Hukum  di  Indonesia

,  (Jakarta:  YLBHI  dan  PSHK,  2007),

cet. Ke-2, hal. 348

11

Cabuli

Bayi

A

Lebih

dari

Sekali

.

Lihat

lebih

lengkap:

http://news.liputan6.com/read/738357/paman-cabuli-bayi-a-lebih-dari-sekali

.Diakses

pada tanggal 26  November 2013 Pukul 19.30 WIB

6

dalam  melakuan  kekerasan  seksual  yang  penting  bagi  pelaku  hasrat  seksual

mereka dapat tersalurkan.

Mo

dus   pelaku   dalam   mendekati   korban   sangat   berfariasi   misalnya

mereka tingal mendekati korban dan mengajaki ngobrol saja, ada juga membujuk

ko

rban,  dan  juga  merayu  dan  ada  juga  yang  memaksa  korbannya.  Serta  modus

yang  lebih  canggih  yakni  pelaku  menggunakan  jejaring  sosial  (media  internet)

dengan  berkenalan  dengan  korban,  mengajak  bertemu  dan  memperkosa  atau

melakukan  kekerasan  sosial  lainnya.

Hal  demikian,  seperti  yang  dikatakan  oleh

Komisi  Perlidungan  Anak  Indonesia  (KPAI)  bahwa  modus  kekerasan  seksual

terhadap  anak  berawal  dari  jejaring  sosial  mencapai  hingga  31%

,

12

angka  yang

cukup fantastis kekerasan seksual pada anak

hingga kini terus meningkat tinggi.

Menanggapi    hal    itu    semua,    Ketua    Komnas    Perlidungan    Anak

menegaskan  tahun  ini  sebagai  tahun  darurat  terhadap  kekerasan  anak.Fakta

kejahatan  atau  kekerasan  seksual  harus  menjadi  isu  bersama.Semua  komponen

bangsa  harus  turut  serta  memerangi  dan  menghentikan  kekerasan  seksual.Lebih

lanjut   menurutnya   pula   bahwa   adanya   UU   No   23   Tahun   2002   Tentang

Perlindungan  Anak  pun  belum  diimbangi  implementasi  perlindungan  terhadap

anak   dan   sanksi   bagi   pelaku   pelanggaran   hak   anak   pun   tidak   maksimal.

Degradasi norma agama dan

ketahanan keluarga pun terus terjadi. Keluarga yang

12

Lihat

berita

31%

Kekerasan

Seksual

terhadap

Anak

Dimulai

dari

Internet”

http://www.investor.co.id/family/31-kekerasan-seksual-terhadap-anak-dimulai-dari-

internet/72084

.  Diakses pada tanggal 26  November 2013 Pukul 19.35 WIB

7

seharusnya menjadi benteng perlindungan anak pun justru menjadi pelaku utama

kekerasan terhadap anak.

13

Anak  sebagai  tulang  punggung  bangsa  dan  sebagai  generasi  muda  yang

nantinya  sebagai  penerus  bangsa  tentunya  harus  hidup  dan  berkembang  sesuai

dengan  kebutuhannya  agar  dapat  hidup  sesuai  dengan  harkat  dan  martabatnya

dan  dapat  menjadi  penerus  bangsa  yang  dapat  diandalkan  untuk  memajukan

bangsa  dan  mensejahterakan  negara  bukan  menjadi  penerusyang  perkembangan

mental  dan  psikisnya  terhambat  bahkan  mengalami  penyimpangan

kekerasan

seksual

. Dalam hal ini Negara harus secepatnya turun tangan untuk memberikan

perlindungan  kepada  anak

-anak  yang  mengalami  berbagai  masalah  yang  dapat

menghambat hidupnya

.

B.     Rumusan Masalah

 

C.    Tujuan

BAB II
PEMBAHASAN

 

Kata-kata sumber dalam hukum Islam merupakan terjemah dari kata mashadir yang berarti wadah ditemukannya dan ditimbanya norma hukum. Sumber hukum Islam yang utama adalah Al Qur’an dan sunah. Selain menggunakan kata sumber, juga digunakan kata dalil yang berarti keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu kebenaran. Selain itu, ijtihad, ijma’, dan qiyas juga merupakan sumber hukum karena sebagai alat bantu untuk sampai kepada hukum-hukum yang dikandung oleh Al Qur’an dan sunah Rasulullah SAW.

Secara sederhana hukum adalah “seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang diakui sekelompok masyarakat; disusun orang-orang yang diberi wewenang oleh masyarakat itu; berlaku mengikat, untuk seluruh anggotanya”. Bila definisi ini dikaitkan dengan Islam atau syara’ maka hukum Islam berarti: “seperangkat peraturan bedasarkan wahyu Allah SWT dan sunah Rasulullah SAW tentang tingkah laku manusia yang dikenai hukum (mukallaf) yang diakui dan diyakini mengikat semua yang beragama Islam”. Maksud kata “seperangkat peraturan” disini adalah peraturan yang dirumuskan secara rinci dan mempunyai kekuatan yang mengikat, baik di dunia maupun di akhirat.

 

A.    Peran Hukum Islam terhadap Kasus Pidana Masa Kini

Suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai jarimah (tindak pidana), jika ada unsur formil (adanya UU/alquran dan hadis), materiil (sifat melawan hukum) dan unsur moral (pelakunya mukallaf) atau biasa bertanggung jawab terhadap tindakannya, sebuah pelanggaran tidak memenuhi unsur-unsur tersebut maka tidak dapat dikatakan jarimah (tindak pidana). Untuk menentukan suatu hukuman terhadap suatu tindak pidana dalam Hukum Islam, diperlukan unsur normatif dan moral, sebagai berikut:

  1. Unsur Yuridis Normatif
  2. Unsur ini harus didasari oleh suatu dalil yang menentukan larangan terhadap perilaku tertentu dan diancam dengan hukuman.
  3. Unsur Moral Adalah kesanggupan seseorang untuk menerima sesuatu yang secara nyata mempunyai nilai yang dapat dipertanggung jawabkan.

Asas-asas Hukum Pidana Islam adalah asas-asas hukum yang mendasari pelaksanaan Hukum Pidana Islam, diantaranya:

Asas Legalitas

Asas legalitas adalah asas yang menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran dan tidak ada hukuman sebelum ada undang-undang yang menyatakannya. Asas ini berdasarkan pada Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 15 dan Surat Al-An’am ayat 19.

Kedua ayat tersebut mengandung makna bahwa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW supaya menjadi peringatan (dalam bentuk aturan dan ancaman hukuman) kepadamu. Selain itu, ayat lain dalam Al-Qur’an yang menyatakan asas ini ialah :

Q.s. asy-syura 208 yang berbunyi : “ dan kami tidak membinasakan suatu negeri pun melainkan sudah ada bagiannya yang memberi peringatan” dan

Q.s. al-qashas 59 yang berbunyi : “ dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan, kota-kota sebelum dia mengutus kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat kami kepada mereka, dan tidak pernah pula kami membinasakan kota-kota kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman”

Dua ayat tersebut menjadi azas legalitas yang mana suatu negara atau kota yang tidak ada yang memperingati atau membacakan ayat-ayat dan tidak ada yang melakukan kedzaliman maka Negara atau kota itu tidak boleh menerapkan hukuman pidana.

Asas Larangan Memindahkan Kesalahan Pada Orang Lain

Asas ini adalah asas yang menyatakan bahwa setiap perbuatan manusia, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang jahat akan mendapat imbalan yang setimpal. Seperti yang tertulis pada ayat 38 Surat Al-Mudatsir yang artinya :

“ tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”

Allah SWT menyatakan bahwa setiap orang terikat kepada apa yang dia kerjakan, dan setiap orang tidak akan memikul dosa atau kesalahan yang dibuat oleh orang lain.

Asas Praduga Tak Bersalah

Asas praduga tak bersalah adalah asas yang mendasari bahwa seseorang yang dituduh melakukan suatu kejahatan harus dianggap tidak bersalah sebelum hakim dengan bukti-bukti yang meyakinkan menyatakan dengan tegas persalahannya itu. Asas ini berdasarkan Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat ayat 12 :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain…”

 

Ciri-ciri Hukum Pidana Islam

Ciri-ciri Hukum Pidana Islam adalah sebagai berikut:

  1. Hukum Islam adalah bagian dan bersumber dari ajaran Agama Islam.
  2. Hukum Islam mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dicerai-pisahkan dengan iman dan kesusilaan atau akhlak Islam.
  3. Hukum Islam mempunyai istilah kunci, yaitu syariah dan fikih.
  4. Hukum Islam terdiri dari dua bagian utama, yaitu hukum ibadah dan hukum muamalah dalam arti yang luas.
  5. Hukum Islam mempunyai struktur yang berlapis-lapis seprti dalam bentuk bagan bertingkat.
  6. Hukum Islam mendahulukan kewajiban dari hak, amal, dan pahala.
  7. Hukum Islam dapat dibagi menjadi hukum Taklifi dan hukum Wadh’i.
  8. Hukum Taklifi menurut pengertian kebahasaan adalah hukum pemberian beban sedangkan menurut istilah adalah perintah Allah SWT yang berbentuk pilihan dan tuntutan. Dinamakan hukum taklifi karena perintah ini langsung mengenai perbuatan seorang mukallaf (balig dan berakal sehat). Disebutkan tuntutan karena hukum taklifi menuntut seorang mukallaf untuk melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan secara pasti. misalnya firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (2:110), artinya: ” Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tuntutan Allah SWT untuk meninggalkan suatu perbuatan, misalnya firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ (17:33), artinya:

” Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu alasan yang benar.”

Tuntutan Allah SWT mengandung pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya.

Hukum Wadh’i merupakan perintah Allah SWT yang berbentuk ketentuan yang ditetapkan Allah SWT, tidak langsung mengatur pebuatan mukallaf, tetapi berkaitan dengan perbuatan mukallaf itu, dengan kata lain Hukum wad’i adalah hukum yang menjadikan sesuatu sebagai sebab bagi adanya sesuatu yang lain atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain. Bisa juga diartikan hukum wadh’i adalah hukum yang menjelaskan hukum taklifi atau yang menjadi akibat dari pelaksanaan hukum taklifi. Sebagai contoh, melihat anak bulan Ramadan menyebabkan wajibnya berpuasa. Ia berdasarkan firman Allah SWT:

“Oleh itu, sesiapa dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah dia berpuasa bulan itu…” (Al-Baqarah: 185).

Melalui contoh di atas, kita dapat memahami bahawa melihat anak bulan menjadi sebab wajibnya berpuasa.

 


 

Tujuan Hukum Pidana Islam

Tujuan hukum pada umumnya adalah menegakkan keadilan berdasarkan kemauan pencipta manusia sehingga terwujud ketertiban dan ketentraman masyarakat.

Namun bila tujuan Hukum Islam dilihat dari ketetapan hukum yang dibuat oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad, baik yang termuat di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, yaitu untuk kebahagiaan hidup manusia didunia dan akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan mencegah serta menolak segala yang tidak berguna kepada kehidupan manusia. Dengan kata lain tujuan Hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia baik jasmani maupun rohani individu dan masyarakat. Kemaslahatan dimaksud, dirumuskan oleh Abu Ishak Asy-Syathibi dan disepakati oleh ahli Hukum Islam lainnya seperti yang telah dikutip oleh H.Hakam Haq, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Salah satu hal yang membedakan Hukum Pidana Islam dan hukum pidana sekuler adalah adanya dimensi-dimensi ukhrawi dalam berbagai konsepnya. Dalam konsep tujuan pemidanaan misalnya, penjatuhan hukuman tidak hanya bertujuan sebagai pembalasan, perbaikan, pencegahan, dan restorasi, tetapi juga meliputi sebagai penebusan dosa. Tujuan pemidaan dalam Islam juga memperhatikan aspek-aspek keadilan dan kemaslahatan bagi korban dan pelaku kejahatan, sehingga kepentingan masing-masing pihak tidak dapat dinafikan begitu saja. Ayat yang menjelaskan mengenai penebusan dosa ialah :

“ Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. ” (Q.S. Al-Maidah ayat 45)

 

B.     Peran Pemerintah Menangani Kasus Pidana Saat Ini

Hukum sebagai norma mempunyai ciri kekhususan, yaitu hendak melindungi, mengatur dan memberikan keseimbangan dalam menjaga kepentingan umum. Pelanggaran ketentuan hukum dalam arti merugikan, melalaikan atau menggangu keseimbangan kepentingan umum dapat menimbulkan reaksi dari masyarakat.  Peranan hukum itu sendiri sangat berpengaruh guna menciptakan keadilan bagi seseorang.

Peranan (role) merupakan proses dinamis kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan suatu peranan. Perbedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan karena yang satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya Levinson dalam Soekanto mengatakan peranan mencakup tiga hal, antara lain:

  • Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan bermasyarakat;
  • Peranan merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi;
  • Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.

Peranan tersebut selain ditentukan oleh pelaku peran tersebut juga ditentukan oleh harapan pihak lain, termasuk juga kemampuan, keahlian, serta kepekaan pelaku peran tersebut terhadap tuntutan dan situasi yang mendorong dijalankannya peranan. Peranan juga bersifat dinamis, di mana dia akan menyesuaikan diri terhadap kedudukan yang lebih banyak agar kedudukannya dapat diakui oleh masyarakat.

Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya ’’Polisi dan penegakan hukum’’ sebagaimana dikutip Satjipto Raharjo, menjelaskan tentang persoalan peran penegak hukum sebagai berikut:’’secara sesiologis setiap penegakan hukum baik yang bertugas dibidang-bidang kehakiman, kejaksaan, kepolisian, kepengacaraan, dan pemasyarakatan mempunyai kedudukan (status) dan peranan (role)’’, Kedudukan (social) merupakan posisi tertentu dalam posisi pemasyarakatan yang mungkin tinggi, sedang-sedang saja, atau rendah kedudukkan tersebut sebenarnya merupakan suatu wadah yang lainnya adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban tertentu. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban tadi adalah merupakan suatu peranan (role). Oleh karena itu, seseorang yang mempunyai kedudukkan tertentu, lazimnya dinamakan pemegang peran (role accupant).  Suatu hak sebenarnya merupakkan wewenang untuk berbuat atau tidak berbuat, sedangkan kewajiban adalah beban tugas suatu peranan tertentu dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Peranan yang ideal (ideal role);
  2. Peranan yang seharusnya (expected role);
  3. Peranan yang dianggap oleh diri sendiri (perceived role);
  4. Peranan yang sebenarnya dilakukan (actual role).

Polisi Republik Indonesia sebagai pengayoman masyarakat dan penegak hukum dalam struktur kehidupan masyarakat mempunyai tanggung jawab khusus untuk memelihara ketertiban bermasyarakat dan menangani atau mengatasai setiap tindakan kejahatan baik itu dalam bentuk tindakan terhadap kejahatan, maupun bentuk pencegahan dari kejahatan tersebut supaya masyarakat dapat hidup dan bekerja dalam keadaan aman dan tentram.

Adapun peran kepolisian menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang terdapat dalam  Pasal 5 ayat (1) adalah:

“Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri”.

Peranan kepolisian sangat peting dalam hal penanggulangan kejahatan baik itu preventif maupun represif, guna untuk meminimalisir kejahatan yang terjadi di dalam masyarakat.

Kunarto dalam makalahnya menyebutkan di dalam kegiatan operasi rutin, metode yang diterapkan dalam penanggulangan kejahatan dapat dibedakan menjadi tiga:

  1. Upaya Represif

Meliputi rangkaian kegiatan penindakan ynag ditujukan kearah pengungkapan terhadap semua kejahatan yang telah terjadi, yang disebut sebagai ancaman faktual. Dalam hal ini bentuk kegiatan antara lain dapat berupa penyelidikan, penyidikan serta upaya paksa lainnya sesuai ketentuan undang-undang.

  1. Upaya Preventif

Meliputi rangkaian kegiatan yang ditunujukkan untuk mencegah secara langsung terjadinya kejahatan, yang mencakup kegiatan-kegiatan yang diperkirakan mengandung pilice hazard, termasuk juga kegiatan pembinaan masyarakat, yang ditujkan unutk memotivasi segenap lapisan masyarakat agar dapat berpartisifasi aktif dalam uoaya mencegah, menangkal dan mengurangi kejahatan.

  1. Upaya Pre-entif

Berupa rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk menangkal dan menghilangkan faktor-faktor kriminogen pada tahap sedini mungkin.

 

C.    Pandangan Hukum Islam terhadap Hukum di Indonesia saat ini

Kejahatan dan Pelanggaran dalam Hukum Pidana (Hukum Positif)

Istilah kejahatan berasal dari kata “jahat”, yang artinya sangat tidak baik, sangat buruk, sangat jelek, yang ditumpukan pada tabiat dan kelakuan orang. Kejahatan berarti mempunyai sifat yang jahat atau perbuatan yang jahat. Dalam ketentuan pasal 86 KUHP sebagaI berikut:

“Apabila disebut kejahatan pada umumnya atau suatu kejahatan pada khususnya, maka dalam sebutan itu termasuk juga membantu melakukan itu, jika dikecualikan oleh suatu peraturan lain”.

KUHP menempatkan kejahatan di dalam Buku Kedua dan pelanggaran di dalam Buku Ketiga. Tetapi tidak penjelasan mengenai apa yang disebut kejahatan dan pelanggaran. Semuanya diserahkan kepada ilmu pengetahuan untuk memberikan dasarnya, tetapi tampaknya tidak ada yang sepenuhnya memuaskan.

Dicoba membedakan bahwa kejahatan merupakan rechtsdelictatau delik hukum dan pelanggaran merupakan westdelict atau delik undang-undang. Delik hukum adalah pelanggaran hukum yang dirasakan melanggar rasa keadilan, misalnya perbuatan seperti pembunuhan, melukai orang lain, mencuri dan sebagainya. Sedangakan delik undang-undang melanggar apa yang ditentukan oleh undang-undang, misalnya saja keharusan untuk mempunyai SIM bagi yang mengendarai kendaraan bermotor di jalan umum, atau mengenai helm ketika mengendarai sepeda motor. Disini tidak tersangkut sama sekali masalah keadilan. Pelanggaran adalah mengenai hal-hal kecil atau ringan yang diancam dengan hukum denda sedangkan Kejahatan adalah mengenai hal-hal besar yang diancam dengan pidana lainnya.

Terdapat dua cara pandang dalam membedakan antara kejahatan dan pelanggaran (Moeljatno, 2002:72), yakni pandangan pertama yang melihat adanya perbedaan antara kejahatan dan pelanggaran dari perbedaan kualitatif. Dalam pandangan perbedaan kualitatif antara kejahatan dan pelanggaran dikatakan bahwa kejahatan adalah “rechtsdeliten”, yaitu perbuatan-perbuatan yang meskipun tidak ditentukan dalam undang-undang, sebagai perbuatan pidana, telah dirasakan sebagai onrecht, sebagai perbuatan yang bertentantangan dengan tata hukum. Pelanggaran sebaliknya adalah “wetsdeliktern”, yaitu perbuatan-perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui setelah ada wet yang menentukan demikian (Moeljatno, 2002:71).Pandangan kedua yakni pandangan yang menyatakan bahwa hanya ada perbedaan kuantitatif (soal berat atau entengnya ancaman pidana) antara kejahatan dan pelanggaran.Selain daripada sifat umum bahwa ancaman pidana bagi kejahatan lebih berat daripada pelanggaran, perbedaan antara kejahatan dan pelanggaran yaitu (Moeljatno, 2002:74) :

  1. Pidana penjara hanya diancamkan pada kejahatan saja.
  2. Jika menghadapi kejahatan maka bentuk kesalahan (kesengajaan atau kelapaan) yang diperlukan di situ, harus dibuktikan oleh jaksa, sedangkan jika menghadapi pelanggaran hal itu tidak usah.
  3. Percobaan untuk melakukan pelanggaran tak dapat dipidana (Pasal 54 KUHP). Juga pembantuan pada pelanggaran tidak dipidana (Pasal 60 KUHP).
  4. Tenggang daluwarsa, baik untuk hak menentukan maupun hak penjalanan pidana bagi pelanggaran adalah lebih pendek daripada kejahatan tersebut masing-masing adalah satu tahun dan dua tahun.
  5. Dalam hal pembarengan (concursus) pada pemidanaan berbeda buat pelanggaran dan kejahatan. Kumulasi pidana yang enteng lebih mudah daripada pidana berat.

 

Menurut teori hukum Islam (Ushul Fiqh), hukum Islam terbentuk atas 4 (empat) landasan yaitu Al Qur’an dan Sunnah (landasan materiil), Ijma’ (landasan formal), dan Qiyas (aktivitas penyimpulan analogi yang efisien).

Dalam lingkungan masyarakat Islam sendiri berlaku 3 (tiga) kategori hukum, yaitu:

  • Hukum Syariat (terdapat dalam Al Qur’an dan Hadits) yang berkaitan dengan perbuatan subyek hukum, berupa melakukan suatu perbuatan memilih atau menentukan sesuatu sebagai syarat, sebab, atau penghalang;
  • Fiqh (Ilmu atau hasil pemahaman para ulama mujtahid) tentang hukum-hukum syara’ yang bersifat perbuatan yang dipahami dari dalil-dalilnya yang rinci;
  • Siyasah Syar’iah (kewenangan Pemerintah/peraturan perundang-undangan) untuk melakukan kebijakan yang dikehendaki kemaslahatan melalui aturan yang tidak bertentangan dengan agama, meskipun tidak ada dalil tertentu.

Adapun mengenai Piagam Madinah, seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa tidak lama setelah Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah, beliau membuat suatu piagam politik yang merupakan salah satu strategi umat Islam untuk membina kesatuan hidup di antara berbagai golongan warga Madinah. Dalam piagam tersebut dirumuskan aturan-aturan mengenai kebebasan beragama, hubungan antar kelompok, kewajiban mempertahankan hidup, dan sebagainya. Betapa tinggi nilai substansi Piagam Madinah tersebut hingga Almarhum Prof. Nurcholis Madjid menyatakan:

Dalam kaitan antara Piagam Madinah dengan kehidupan politik di Indonesia, tepatnya pada awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia, maka umat Islam di Indonesia pada masa itu juga membentuk kesatuan hidup bersama dengan pemeluk agama lain berdasarkan UUD 1945. Alamsyah Ratu Perwira Negara (Mantan Menteri Agama RI) berpendapat bahwa penerimaan umat Islam terhadap Pancasila menurut rumusannya yang kompromistis sebagai dasar negara Republik Indonesia, yang terdapat dalam Alinea IV UUD 1945, merupakan “hadiah” umat Islam bagi persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Kedua konstitusi tersebut (Piagam Madinah dan UUD 1945) memiliki banyak kesamaan dalam hal pokok-pokok pemikiran, antara lain bahwa konstitusi merupakan bagian yang sangat penting dalam hidup bermasayarakat dan bernegara, dan juga berdasarkan perbandingan tersebut maka diperoleh kesimpulan bahwa yang paling penting dan harus selalu dipelihara dalam suatu konstitusi suatu masyarakat dan negara adalah sifat Islami, bukan label Islam.

 

Korelasi Hukum Islam Dengan Hukum Nasional

Tata hukum Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 telah memberikan landasan dan arahan politik hukum terhadap pembangunan bidang agama (hukum agama) dengan jelas. Menurut Prof. Mochtar Kusumatmadja, sila KeTuhanan Yang Maha Esa pada hakekatnya berisi amanat bahwa tidak boleh ada produk hukum nasional yang bertentangan dengan agama atau bersifat menolak atau bermusuhan dengan agama. Pasal 29 UUD 1945 menegaskan tentang jaminan yang sebaik-baiknya dari Pemerintah dan para penyelenggara negara kepada setiap penduduk agar mereka dapat memeluk dan beribadah menurut agamanya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa negara mengakui dan menjunjung tinggi eksistensi agama termasuk hukum-hukumnya, melindungi dan melayani keperluan pelaksanaan hukum-hukum tersebut.

 

Pola Legislasi

Berkaitan dengan kontribusi hukum Islam dalam hukum nasional di Indonesia maka terdapat 3 (tiga) pola legislasi hukum Islam dalam peraturan perundang-undangan nasional, yaitu:

  1. Hukum Islam berlaku untuk setiap warganegara dengan beberapa pengecualian. Pola ini dikenal sebagai pola unifikasi dengan diferensiasi (contoh: Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan),
  2. Hukum Islam diundangkan dan hanya berlaku bagi umat Islam (contoh: Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh), dan
  3. Hukum Islam yang masuk dalam peraturan perundang-undangan nasional dan berlaku untuk setiap warganegara (contoh: Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1990 Tentang Kesehatan).

 

Prospek Hukum Islam Di Indonesia

Berdasarkan keseluruhan dari uraian di atas, maka tidak ada alasan bagi bangsa Indonesia untuk tetap mendiskriminasikan hukum Islam dalam tata hukum nasional dengan alasan eksklusivitas, sebab secara historis hukum Islam dengan segenap pola legislasinya telah teruji, baik eksistensinya maupun efektivitasnya, dalam turut serta menjamin kehidupan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Hukum Islam bukanlah sesuatu yang harus dijadikan momok bagi masyarakat yang adil dan sejahtera karena hal ini telah terbukti sejak periode Piagam Madinah dimana kaidah-kaidah (hukum) Islam dapat menjamin kelangsungan penyelenggaraan negara secara adil dan sejahtera. Untuk mengimplementasikan semua itu tidak harus misalnya dengan menerapkan aturan-aturan pidana Islam di Indonesia ataupun bahkan dengan mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Negara Islam, namun yang terpenting bahwa hukum Islam harus dapat menjiwai dan menjadi pondasi utama bagi struktur hukum nasional. Oleh karena itu, hukum Islam tidak hanya dapat hidup berdampingan dengan hukum nasional, namun hukum Islam juga dapat berperan sebagai pondasi utama dan melengkapi kekurangan-kekurangan hukum nasional.

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Individu khususnya anak akan mengalami perkembangan baik fisik maupun psikis yang meliputi aspek-aspek intelektual, sosial, emosi, bahasa, moral dan agama.

Kadang-kadang sangat cinta dan percaya kepada-Nya, tetapi sering pula berubah menjadi acuh tak acuh bahkan menentang motivasi beragama dalam diri remaja adalah bermacam-macam dan banyak yang bersifat personal. Adakalanya didorong oleh kebutuhan akan Tuhan sebagai pengendali emosional, adakalanya karena takut akan perasaan bersalah, dan pengaruh dari teman-teman di mana ia berkelompok.

Terdapat empat sikap remaja dalam beragama, yaitu: Percaya ikut- ikutan, Percaya dengan kesadaran, Percaya, tetapi agak ragu- ragu, dan Tidak percaya atau cenderung ateis

B.     Saran

Dalam perkembangan anak merupakan salah satu perjalanan yang bisa mempengaruhi dalam kehidupannya, oleh sebab itu butuh arahan serta didikan agar bisa melewati masa-masa transisi itu dengan baik dalam fisik maupun psikis sehingga bisa mengatasi dan mengaplikasikan perubahan-perubahan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan bimbingan orang tua serta guru yang baik dalam mendidiknya, maka masa anak akan menjadi masa emas di waktu dewasa.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Zakiah Daradjat, Membina Nilai-Nilai Moral di Indonesia, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.

Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja

 

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/10/aspek-aspek-perkembangan-pada-masa.html

http://yusrin-orbyt.blogspot.com/2012/12/makalah-perkembangan-masa-remaja.html.

http://hera-orgen.blogspot.com/p/psikolofi-agama.html

Pos ini dipublikasikan di makalah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s